27 December 2012

Memoar



Tadi pagi, saya tidak sengaja bertemu dengan salah satu kawan di sekolah dasar, Fadhilah namanya. Bisa dibilang, dia adalah teman dekat saya sewaktu bersekolah di SDN Lakarsantri II/473 dulu. Kami layaknya preman sekolah, sering sekali melakukan kenakalan-kenakalan seperti memalaki teman-teman cowok seusai pelajaran olahraga,  meskipun tidak ada yang mau membayar;  mengejar teman yang ketahuan bolos piket; sampai pernah merusakkan mata rantai sepeda seseorang dan menggembosi ban-nya lantaran ia tidak mau melaksanakan tugas piket! Alhasil, kami pun kena amuk oleh bapak dari anak tersebut. Dulu saya nakal, tapi bahagia. Haha.
Saya sudah mengenal sistem saingan dalam pelajaran dari sekolah dasar, tapi saingan yang sportif tentunya. Saya, Fadhilah, alm. Sinta, dan Indira selalu bersaing memperebutkan empat besar rangking di kelas semenjak kelas 3. Kami pun sering menyebut diri kami sendiri dengan sebutan empat serangkai, seperti empat serangkai pada jaman pra-kemerdekaan yang mengusahakan kemerdekaan Indonesia. 
Nah, kembali ke topik. Saat pertemuan di toko ibu saya tadi, Fadhilah berujar pada saya.
“Eh sis, sawangane koncone awak dhewe iki akeh sing gak sekolah, deh. Wingi ae, aku ndelok Rosikin kerjo nang Ciputra Waterpark. Terus, Nancy saiki wes nggendong anak, kerjo nang pabrik roti template tanteku kerjo. Sing liyane mbuh lah kabare cek opo.”
Ditranslate.
“Eh kelihatannya temen-temen kita banyak yang udah gak sekolah deh. Kemarin aja, aku lihat Rosikin kerja di Ciputra Waterpark. Nancy, yang sekarang udah punya anak, kerja jadi buruh di pabrik roti tempat tanteku kerja. Yang lainnya, gatau lah nasibnya gimana.”

Miris. Miris sekali mendengarnya.
Ah, kalau gini, jadi ingat teman-teman SD kan…. Gimana kabarnya mereka sekarang, masih hidup atau nggak sih? *eh.
Kangen sekuangen-kangennya. Kangen dengan lapangan upacaranya yang segede gaban. Kangen dengan permadani hijau di belakang sekolah yang sekarang udah digarap, hilang. Kangen dengan kejujuran orang-orang di dalamnya. Kangen dengan pelajaran olahraganya yang selalu itu-itu saja, main bola kasti! Tidak heran deh kalau waktu SMP saya mengeluh tidak bisa main bola basket sama sekali, lha di SD gak pernah megang, liat sekali pun gak pernah.
Kangen dengan para gurunya yang berdedikasi tinggi saat mengajar, untuk membuat murid-muridnya pintar. Tidak seperti guru sekarang *ups*. Tapi jujur lho, dulu saya sangat bersemangat untuk berangkat ke sekolah, karena dapat bertemu dengan guru-guru favorit saya! Julukan pahlawan tanpa tanda jasa seakan sama sekali gak rugi bila digantungkan pada lencana di dada mereka, karena emang begitu adanya. Mereka tidak pernah mengeluh dengan sistem sekolah, tidak pernah mengharapkan bayaran lebih walau mengajar untuk tambahan UN sedari pagi, dan juga mengajar tanpa embel-embel apapun, hanya berharap murid-muridnya menjadi sosok yang pintar, jujur, dan dapat diandalkan.
Apa sekarang jamannya sudah berubah, ya? Mungkin saja.

0 comment: